Penting Mana? Brand atau Rating?

0
356
views
Ilustrasi (captera.com)

Kira-kira kalau anda belanja apa yang menjadi pertimbangan? Apakah memilih barang yang sudah punya brand ternama (branded) atau belanja aja tiba-tiba tanpa melihat merek atau brand?

Saya sendiri tidak terlalu penting sebuah brand, mungkin karena memang daya beli saya yang memang tidak menjangkau untuk membeli barang branded. Kita sama-sama tahu bahwa barang branded itu biasanya harganya diatas rata-rata barang sejenis. Tidak usah jauh-jauh, sekelas lontong balap Pak Gendut misalnya yang sudah masyhur kemana-mana brandnya mematok harga Rp. 17.000 untuk satu porsi, jauh diatas harga lontong balap kaki lima pada umumnya.

Saya biasa beli lontong balap mbah atok yang satu porsi cuma Rp. 6000 yang takaran porsinya lebih banyak dibanding lontong Pak gendut yang ternama itu. Masalah rasa menurut saya masalah selera, rasa lontong balapnya mbah atok tidak kalah lezat sama yang sudah punya brand itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa brand mempunyai kekuatan tersendiri, khususnya dalam hal meningkatkan harga.

Di zaman yang serba digital ini perilaku berbelanja orang bergeser, baik dari cara berbelanjanya ataupun cara memilih produknya. Terutama bagi kalangan milenial dan generasi Z. Dari sisi cara berbelanja generasi ini sudah banyak memilih berbelanja melalu marketplace atau kita lebih kenal dengan belanja online daripada datang ke outlet atau ke mall langsung. Kalau pun mereka datang ke Mall biasanya akan membandingkan harga untuk barang yang sama dengan harga di marketplace.

Dari sisi memilih barang atau produk generasi milenial dan generasi Z juga sudah banyak bergeser, bukan hanya melihat brand. Meskipun memang ketika memilih barang branded kita sudah tau jaminan kualitasnya, yang tentu harus dibayar dengan merogoh kocek lebih dalam.

Dalam memilih barang generasi saat ini lebih memilih melihat rating, review dan recomendation. Semua marketplace rasanya punya fitur ini. Saya saja ketika berbelanja di marketplace akan melihat rating dari tokonya, bintang berapa. Kemudian melihat review barangnya yang biasanya terdapat dibagian bawah produk yang ditawarkan. Disitu kita bisa mengetahui mulai dari detail barang, respon penjual, packaging bahkan pengiriman yang diberikan oleh orang-orang yang belanja sebelum kita.

Rating dan review tersebut saat ini kerap kali menjadi acuan bagi pembeli untuk melakukan transaksi, setelah mereka melakukan filter berdasarkan harga dan lokasi biasanya calon pembeli akan melihat rating dan review tadi.

Bukan hanya dibidang produk jadi, bahkan dalam bidang jasa rating dan review ini menjadi chalenge bagi penyedia jasa supaya mendapat penilaian dan citra yang baik bagi konsumennya. Itulah mengapa layanan seperti driver Gojek atau Grab akan meminta bintang 5 saat kita selesai menggunakan jasanya. Selain sebagai dasar reward dari perusahaan itu juga akan menjadi acuan bagi pengguna lain untuk memilih menggunakan jasa mereka.

Lalu bagaimana dengan Recomendation? Ternyata para muda-mudi ini punya kebiasaan yang unik setelah mereka melakukan pembelian produk atau menggunakan jasa platform digital. Atau jangan-jangan anda yang membaca ini pernah melakukannya tanpa sadar. Kebiasaan itu adalah Recomendation. Mereka dengan sukarela biasanya akan sharing di sosmed mereka tentang produk atau jasa yang mereka gunakan, bahkan tidak jarang mereka akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut melalu postingan di akun sosmednya dengan sukarela, tanpa endorsement.

Dari rating, review dan recomendation ini kita punya pelajaran, terutama bagi pelaku usaha yang menggunakan platform digital. Misal, mungkin lebih penting mengeluarkan uang untuk review dan rating toko atau produk anda daripada mengeluarkan uang untuk beriklan atau branding produk. Atau setidaknya mengurangi budget beriklan untuk sebagian dialokasikan untuk membayar orang melakukan review dan rating. (@dulunakal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here